Politik Identitas Menguat di Era Digital, Bagaimana Masa Depan Persatuan Bangsa?

Politik Identitas Menguat di Era Digital, Bagaimana Masa Depan Persatuan Bangsa?

Bugis.Net
- Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, memperoleh informasi, hingga membangun identitas kelompok. Di tengah perkembangan tersebut, sejumlah akademisi menilai politik identitas akan tetap menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi dinamika sosial dan politik pada masa mendatang.

Fenomena politik identitas sebenarnya bukan hal baru. Sejak ribuan tahun lalu, manusia telah membentuk kelompok berdasarkan kesamaan agama, suku, budaya, bahasa, maupun keyakinan tertentu. Namun di era digital, proses pembentukan identitas tersebut berlangsung jauh lebih cepat dan menjangkau lebih banyak orang dibandingkan sebelumnya.

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, menjelaskan bahwa kecenderungan manusia untuk mengidentifikasi diri dengan kelompok tertentu merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial.

"Manusia membutuhkan rasa memiliki dan pengakuan. Karena itu identitas kelompok akan selalu ada dalam kehidupan sosial," ujarnya dalam berbagai kajian mengenai psikologi sosial dan politik.

Identitas sebagai Instrumen Politik
Dalam praktik politik modern, identitas sering menjadi sarana untuk membangun solidaritas dan dukungan publik. Simbol agama, etnis, budaya, hingga ideologi kerap digunakan untuk memperkuat kedekatan emosional antara pemimpin dan masyarakat.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Adi Prayitno, menilai penggunaan identitas dalam politik tidak selalu bermakna negatif. Menurutnya, identitas dapat menjadi saluran aspirasi bagi kelompok masyarakat yang merasa belum terwakili.

"Yang menjadi persoalan adalah ketika identitas digunakan untuk menciptakan sekat sosial dan memperbesar sentimen antarkelompok," katanya.

Dalam berbagai negara demokrasi, isu identitas bahkan sering kali lebih efektif menarik perhatian publik dibandingkan program-program pembangunan yang bersifat teknis. Faktor emosional dinilai memiliki pengaruh besar dalam pembentukan preferensi politik masyarakat.

Media Sosial Mempercepat Penguatan Kelompok
Perkembangan media sosial membawa dimensi baru dalam pembentukan identitas sosial. Jika pada masa lalu seseorang lebih banyak dipengaruhi lingkungan sekitar, kini algoritma platform digital mampu mempertemukan individu-individu yang memiliki pandangan serupa meskipun berada di wilayah yang berbeda.

Fenomena tersebut melahirkan apa yang dikenal sebagai echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang lebih sering menerima informasi yang sejalan dengan keyakinannya sendiri dan semakin jarang berinteraksi dengan sudut pandang yang berbeda.

Pakar komunikasi digital dari Universitas Gadjah Mada, R. Widodo Muktiyo, mengatakan algoritma media sosial secara tidak langsung mendorong pengguna untuk tetap berada dalam kelompok yang dianggap nyaman bagi mereka.

"Semakin sering seseorang berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin banyak pula konten serupa yang akan ditampilkan oleh platform," ujarnya.

Akibatnya, perbedaan pandangan yang sebenarnya wajar dalam masyarakat demokratis dapat berkembang menjadi jarak sosial yang semakin lebar.

Ancaman Polarisasi Sosial
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa polarisasi menjadi salah satu tantangan utama masyarakat digital. Polarisasi terjadi ketika kelompok-kelompok masyarakat semakin sulit memahami atau menerima pandangan pihak lain.

Ilmuwan politik Amerika Serikat, Francis Fukuyama, dalam berbagai tulisannya menyebut bahwa persoalan identitas menjadi salah satu isu sentral politik abad ke-21. Menurutnya, banyak konflik sosial dan politik modern tidak lagi didorong semata-mata oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh tuntutan pengakuan identitas.

Indonesia dinilai memiliki tantangan tersendiri dalam menghadapi fenomena tersebut. Sebagai negara dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis dan ratusan bahasa daerah, keberagaman merupakan kekuatan sekaligus potensi kerentanan apabila tidak dikelola dengan baik.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menilai bahwa media sosial sering mempercepat penyebaran sentimen identitas dibandingkan ruang diskusi konvensional.

"Informasi yang memancing emosi cenderung lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang bersifat netral," katanya dalam sejumlah forum diskusi publik.

Menjaga Kohesi Sosial di Tengah Perbedaan
Meski demikian, para ahli menilai politik identitas tidak selalu berujung pada konflik. Yang menjadi faktor penentu adalah kemampuan masyarakat dan institusi negara dalam mengelola keberagaman tersebut.

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam Prasodjo, berpendapat bahwa kohesi sosial harus dibangun melalui ruang dialog yang memungkinkan berbagai kelompok saling memahami satu sama lain.

Menurutnya, pendidikan, literasi digital, dan penguatan identitas kebangsaan tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga persatuan di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Selain itu, platform digital juga dinilai memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat dan tidak semata-mata berorientasi pada keterlibatan pengguna (engagement).

Tantangan di Masa Depan
Para pengamat memperkirakan perkembangan kecerdasan buatan (AI), analisis data besar (big data), dan teknologi personalisasi informasi akan membuat isu identitas semakin relevan pada masa depan.

Kemampuan teknologi untuk memahami preferensi individu diperkirakan dapat memperkuat segmentasi sosial apabila tidak diimbangi dengan literasi dan regulasi yang memadai.

Di sisi lain, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pendidikan, memperkuat dialog lintas kelompok, dan membangun pemahaman yang lebih baik antarwarga negara.

Di tengah perubahan tersebut, satu hal yang diyakini para ahli tidak akan berubah: manusia akan selalu hidup dalam kelompok dan memiliki identitas yang melekat pada dirinya.

Pertanyaannya bukan lagi apakah politik identitas akan tetap ada, melainkan bagaimana masyarakat mengelolanya agar tetap menjadi kekuatan pemersatu, bukan sumber perpecahan.

Dengan jumlah pengguna internet yang terus meningkat dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, masa depan persatuan bangsa akan sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi, penghormatan terhadap perbedaan, dan komitmen terhadap identitas kebangsaan yang lebih besar.

(Widya Putri)

Lebih baru Lebih lama